Minggu, 17 Januari 2010

Mobil Dewan di atas Aspal Rakyat*


      Senada dengan anggota dewan daerah, kemarin (28/12) tim kabinet Indonesia Bersatu Jilid II serta pejabat tinggi Negara menikmati fasilitas mobil dinas baru seharga 1,2 M. Fantastis, jika untuk satu orang pejabat mengeluarkan dana 1,2 M, lalu berapa dana yang dikeluarkan untuk seluruh tim kabinet Indonesia Bersatu Jilid II serta pejabat tinggi Negara? Bisa dibayangkan, andai uang sebanyak itu untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia. Subhanaallah, luar biasa. Memangnya, apakah ada relevansi antara mobil seharga 1,2 M dengan kinerja dewan? Kita buktikan saja nanti!
*Silvy Manafia


Nobel Perdamaian atau Nobel Pembantaian?*

      Dibalik Nobel Perdamain yang diberikan kepada Obama, banyak kalangan yang tidak setuju akan hal itu, seperti yang dilakukan Wiman Syahrur dengan membuat patung berbentuk Obama yang sedang naik becak (JP, 16/12/09). Pasalnya meski menerima Nobel Perdamain, Obama tetap mempertahankan keberadaan pasukan tentara AS di Irak dan Afghanistan. Bahkan, Obama malah menambah 3000 pasukan lagi. Alih-alih ingin membuat perdamaian, Obama dan AS yang dipimpinnya membuat Irak dan Afghanistan porak-poranda. Obama dan AS sudah terlalu jauh ikut campur mengurusi Negara orang lain. Bukankah hal itu bertentangan dengan HAM yang mereka dengung-dengungkan? Apalagi ternyata dana yang dikeluarkan AS untuk perang Irak dan Afghanistan lebih banyak ketimbang dana yang dikeluarkan untuk mengurusi rakyat AS sendiri.
Apakah mungkin, jumlah pengeluaran yang sudah banyak itu tidak mengharapakan sesuatu yang tentunya dengan jumlah yang lebih besar?


*Silvy Manafia

Kamis, 17 Desember 2009

Buaian untuk Indonesia

Koran ini (Jawa Pos) kemarin (11/12) memberitakan pujian Jepang untuk demokrasi di Indonesia. Di tengah kasus bobroknya sistemhukum danbirokrasi yang korup di negeri ini, bisa jadi ebrita pujian Jepang tersebut mewujudkan sebuah optimism, harapan bagi negeri ini.

Namun, alangkah bijaksananya kalau kita tidak terbuai. Pasalnya, demokrasi dengan kebebasan yang didengungkan tidak member keadilan di negeri ini. Lihatlah kasus Minah dank awn senasibnya. Belum lagi korupsi akut karena memang cost demokrasi yang begitu tinggi. Yang lalu melahirkan korupsi, seperti opini yang ditulis wakil ketu a DPD, Bapak Laode, di Koran ini.

Pujian Jepang itu, jangan membuat kita lupa. Banyak permasalahan krusial negeri ini menunggu diselesaikan sebelum kelak kita berani membusungkan dada untuk kebanggaan negeri ini.

Selamatkan ODHA, apa selamatkan masyarakat?

Antipati masyarakat terhadap penderita HIV membuat pemerintah mensosialisasikan programnya untuk hidup sehat bersama ODHA. Masyarakat diharapkan tidak lagi mengucilkan ODHA tetapi dapat hidup berdampingan bersama ODHA tanpa harus takut resiko tertular. Secara tidak langsung, pemerintah mengesampingkan keselamatan masyarakat akan bahaya tertular virus mematikan ini.

Berbagai program dan dana dikucurkan agar tidak ada lagi diskriminasi terhadap ODHA, tetapi ingat bahwa ratusan juta orang yang bersih dari HIV harus diselamatkan dari merebaknya HIV/AIDS.

Selasa, 15 Desember 2009

Dukungan Muballighoh Jember terhadap Syari'ah-Khilafah


MHTI-Press- Dukungan terhadap Syari’ah dan Khilafah terus meluas. Ini terlihat dari antusiasme peserta Tabligh Akbar Tarhib Muharram Ulama Perempuan yang diselengarakan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Jember hari ahad (13/12). Tabligh yang diselengarakan untuk menyambut tahun baru 1431 H ini diiringi pekikan takbir hampir pada setiap sesi.

Jember dikenal sebagai kota seribu pesantren. Maka dukungan terhadap Syari’ah dan Khilafah pun datang dari kalangan pesantren. Nyai Munawwaroh, pemangku pesantren Nurul Ulum Jember, diagendakan menyampaikan orasi pertama pada tabligh akbar yang bertema “Rapatkan Barisan, Kokohkan Ukhuwah, Songsong Khilafah”. Namun, pada waktu pelaksanaan, beliau berhalangan hadir karena sakit. Meski demikian, beliau mewakilkan pembacaan orasinya tentang derita yang dialami kaum muslimin pasca runtuhnya Daulah Khilafah kepada Ustadzah Zahida.

Orasi kedua disampaikan oleh Ustadzah Azizah, Pembina pengajian Galista Asmara, yang menegaskan bahwa Khilafah adalah solusi problematika ummat saat ini. Koordinator Lajnah Tsaqofiyah MHTI DPD II Jember , Ustadzah Amrina Rosyada, S.Psi, kemudian menutup sesi orasi dengan mengingatkan kembali akan janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah akan tegaknya kembali Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Semangat menegakkan Khilafah sangat terasa pada sesi sharing dan komitmen. “Kami sangat mendukung ide yang dilontarkan Hizbut Tahrir dalam tabligh ini, dan kami siap bersinegi dengan HTI untuk mewujudkan kembali Khilafah,” ucap Ibu Masruroh, perwakilan muslimah Hidayatullah Jember, dengan berapi-api. Sontak, pernyataan tersebut mengundang pekikan takbir dari sekitar dua ratus muballighoh dan pemangku pesantren yang memenuhi aula atas gedung Graha bIna Insani.

Dukungan pun datang dari Ibu Abdul Mu’ith, muballighoh dari desa Jelbuk. Beliau menyampaikan bahwa meskipun tinggal di desa, tapi beliau dan masyarakat di sana sangat mendukung upaya Hizbut Tahrir untuk menerapkan syari’ah dan menegakkan Khilafah. Bahkan dengan tulus beliau bertaya, “Sebagai orang desa, apa yang bisa kami lakukan untuk mendukung dan member bantuan dalam penegakan Khilafah?” subhanallah… Allahu Akbar!

Sementara itu, Ibu Su’ud Fathimah, dari YPI. At-Takwa Kecamatan Kalisat, menyadari bahwa di tengah masyarakat beredar opini negatif terhadap Hizbut Tahrir dan perjuangannya. Termasuk juga di daerahnya. Untuk itu, beliau menyerukan agar masyarakat tidak perlu takut terhadap Hizbut Tahrir. “Jangan takut bergabung dengan Hizbut Tahrir,” seru beliau. “Tidak perlu memandang golongan, yang penting bersatu di bawah kalimat la ilaha illallah wa muhammadur rasulullah,” tambah beliau.

Tabligh akbar yang dimeriahkan dengan aksi teatrikal ini juga telah membawa guru-guru TPA yang pada awalnya memandang negatif Hizbut Tahrir berubah memberikan dukungannya untuk Hizbut Tahrir. Ini seperti yang dialami seorang guru ngaji yang juga mahasiswa STAIN Jember. “Semoga Khilafah berdiri tidak lama lagi. Untuk Muslimah Hizbut Tahrir, saya usul mengadakan tabligh semacam ini rutin tiga atau enam bulan sekali,” harapnya.

Ahad siang itu, Aula atas Graha Bina Insani yang panas, dipenuhi kerinduan terhadap Khilafah sekaligus luapan semangat untuk berjuang menegakkannya. Namun sayang, waktu yang terbatas, membuat tidak semua muballighoh yang hadir bisa menyampaikan secara terbuka dukungannya. Tabligh pun ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh Nyai kharismatik Jember, Nyai Munifah Mursyid.[]

Brain, Beauty dan Behaviour dari Kacamata Swimsuit


Miss Gibraltar Kaiane Aldorino, 22, merebut gelar Miss World 2009 di Afrika Selatan, Sabtu malam (12/12). Dia menyisihkan 111 gadis cantik lain yang menjadi peserta kontes dalam acara yang berlangsung sekitar dua jam. Aldorino menjadi favorit penonton dalam kontes itu setelah memenangi kompetisi pakaian renang (swimsuit). Bersama tujuh kontestan lain, dia lolos ke babak final kontes tersebut.
Brain, beauty dan behaviour macam apa yang bisa dilihat melalui pakaian renang (swimsuit)? Ajang seperti ini adalah kebebasan yang tidak bersusila jika masih diikuti Indonesia.

Ika Misfat Isdiana*

ANGKET TAK SELESAIKAN MASALAH

Pansus Century membutuhkan dana 5 milyar rupiah untuk membiayai hak angket Century. Padahal uang rakyat yang disedot koruptor century masih belum kembali. Kasihan rakyat!
Sebenarnya orang biasa sekalipun tahu siapa tersangka Century yang harus dimintai pertanggungjawaban. Namun, tyindak tegas pemerintah untuk mengadili mereka sangat lambat. Pembentukan pansus hak angket, alih-alih menyelesaikan masalah, malah semakin memperlambat penyelidikan. Hal ini karena, menyedot banyak uang, waktu, dan tenaga.
Kasus Century tidak bisa diselesaikan hanya dengan hak angket tapi butuh ketegasan pemerintah dan kepastian hukum.

Ika Misfat Isdiana*

Minggu, 06 Desember 2009

Santri Peduli HIV, Dukung Penerapan Syari'ah



Jember - Tinggal jauh dari ‘peradaban’ tidak menghalangi pelajar dan para santriwati di desa Kemiri, kecamatan Panti untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap makin meningkatnya kasus HIV/AIDS yang mengancam generasi. Minggu pagi tadi (06/12) mereka berbondong-bondong memenuhi aula PP Al-Hasan untuk mengikuti talk show “Selamatkan Generasi dari Bahaya HIV/AIDS dan Seks Bebas” yang diselenggarakan oleh Mustanir, sebuah lembaga yang menaungi santriwati dari berbagai pesantren di seluruh Kabupaten Jember. Hadir dalam talk show tersebut istri Kepala Desa Kemiri, Ibu

Talk show dibuka oleh Nyai Farida Hasba, pengasuh pesantren Al-Hasan. Nyai Farida menyambut baik kegiatan yang dilaksanakan oleh Mustanir. Beliau menegaskan, fungsi pesantren bukan hanya mendidik ummat, tapi juga ber-amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf nahi munkar, kata beliau, sama wajibnya seperti shalat dan puasa. Salah satu bentuk kemungkaran tersebut adalahs seks bebas yang kini marak dilakukan remaja di Jember. Beliau pun menyampaikan keprihatinannya akan kondisi kabupaten Jember yang dijuluki kota seribu pesantren namun teratas dalam masalah seks bebas dan HIV.

Hadir sebagai narasumber, Agnes Lituhayu Januardhani, mahasiswa Fakultas Kedokteran yang juga aktivis Musliamh HTI, dan Ibu Amrina Rosyada, aktivis Muslimah HTI yang juga seorang psikolog. Sekitar dua ratus peserta dari PP. Al-Hasan, delegasi OSIS SMA AL-Hasan, SMK AL-Hasan, Mts. Bustanul Ulum Panti, PP. Nurul Ulum, PP. Bustanul Ulum Bangsalsari menyimak dengan antusias penjelasan Agnes seputar HIV/AIDS baik dari sisi medis maupun peningkatan kasusnya per tahun dan solusi yang sudah dilakukan pemerintah untuk menanggulanginya.

Agnes menyampaikan bahwa meskipun pemerintah mengkampanyekan program ABCD untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS, akan tetapi yang gencar dilakukan adalah kondomisasi. Menurutnya solusi ini tidak tepat. Karena akan semakin menyuburkan seks bebas. Sementara seks bebas adalah sarana utama dan pertama penyebaran HIV/AIDS. “Apalagi, denga mikroskop elektron terlihat bahwa pori-pori kondom ukurannya 700 mikron. Sementara ukuran HIV-1 hanya 0.1 mikron,” tegasnya.

Ketidaktepatan solusi yang diambil pemerintah juga diakui Ibu Amrina Rosyada. Bukan menekan kasus HIV, justru menyuburkannya. Kondisi ini mengokohkan kapitalisasi dunia kesehatan. “Harm reduction menguntungkan mafia narkoba, kondomisasi mengutungkan produsen kondom, bisnis prostitusi dan produsen pornografi-pornoaksi,” ungkap beliau. Mahalnya obat untuk penderita HIV/AIDS juga menguntungkan MNC Farmasi yang bekerjasama dengan WHO.

Ibu Amrina juga mengungkap analisis bahwa HIV adalah virus yang sengaja diciptakan untuk memusnahkan etnis tertentu. Pernyataan ini didukung pendapat peserta yang menambahkan fakta keberadaan NAMRU di Indonesia yang penuh kejanggalan.

Ibu Amrina kemudian menyampaikan bahwa solusi HIV/AIDS ini adalah dengan menerapkan syari’ah Islam. Syari’ah punya sanksi tegas bagi pelaku seks bebas dan pengguna narkoba. “Kalau ini diterapkan (rajam, cambuk, dan hukuman mati bagi pengguna narkoba) tentu akan membuat orang jera,” ungkapnya. Syari’ah juga mengharuskan adanya perlakuan khusus bagi ODHA karena efek spiral agar HIV tidak menyebar dan mereka terlindungi. “Aturan Allah membuat selamat dunia akhirat, betul?” Tanya Ibu Amrina sebelum mengakhiri penjelasannya. Sontak pertanyaan itu dijawab serempak oleh peserta, “Betuuulll…”

Antusiasme peserta tidak hanya ditunjukkan dengan keseriusan mereka menyimak pemaparan narasumber. Di akhir acara, beberapa peserta menunjukkan ketertarikan dengan mengajukan pertanyaan, bahkan di antara mereka ada yang menyampaikan kesediaannya untuk memperjuangkan diterapkannya Islam kaffah dengan menegakkan khilafah. Allahu Akbar! [iQ]

Minggu, 22 November 2009

MENUTUP LUBANG KORUPSI, DIKOTA SANTRI

Munculnya rekaman Anggodo yang menggemparkan iklim politik Indonesia membuat kasus korupsi kembali mencuat dipermukaan. Kasus yang menggurita diIndonesia ini telah menyerang semua lini kehidupan di semua sisi kepulauan Indonesia. Termasuk Jawa Timur yang didalamnya terdapat Jember, kota seribu pesantren.
Tidak sedikit temuan kasus korupsi yang terjadi di Jember. Seperti kasus korupsi dana Kasda senilai 18 M yang menjerat nama mantan bupati Jember Samsul Hadi Siswoyo. Kasus tersebut masih belum tuntas dan menimbulkan masalah “turunan” pada pemerintahan selanjutnya. Begitu juga dengan kasus temuan LPH BPK yang membeberkan 14 penggunaan dana anggaran tahun 2008 yang tidak wajar, kasus ini membuat DPRD memberikan 11 rekomendasi kepada bupati untuk segera menindaklanjuti masalah tersebut. Walaupun hasilnya hanya berakhir pada laporan dan rekomendasi saja. Selain itu seperti diberitakan Koran ini, Sabtu 10 Oktober 2009 kasus dugaan korupsi mesin daur ulang aspal senilai 5 M yang menyeret nama bupati Djalal, kasus ini menunjukkkan bahwa pemerintahan daerah saat ini masih belum bersih dari praktek korupsi. Dimana pada masa “rezimnya” yang akan berakhir, mulai bertebaran isu miring kasus korupsi pejabat terkait. Belum lagi dugaan korupsi dan kolusi kasus pasar kencong baru. Dugaan ini muncul karena ada orang-orang baru bahkan kerabat dekat anggota dewan yang mendapatkan jatah kios jajaran depan yang strategis. Selain itu adanya kios yang roboh sebelum proyek itu tuntas menunjukkkan bahan bangunan kios pasar baru yang berkualitas rendah. Apakah dana pembangunannya minim? Atau mengandung vitamin “K”?
Imunitas Indonesia dari korupsi
Sebenarnya Indonesia memiliki perangkat antikorupsi yang paling lengkap daripada Negara-negara lain. Mulai dari konsep pencegahan sampai perundang-undangannya. Yang membuat Indonesia melebihi system proteksi Negara manapun. Mulai dari UU pemberantasan tindak pidana korupsi, UU tentang pokok-pokok kepegawaian, UU tentang penyelenggaraan Negara yang bebas dan bersih dari KKN, sampai pebentukan BPKP tingkat pusat dan daerah, BPK (Badan pemeriksaan Keuangan) dan terakhir KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang saat ini malah terjerat badai korupsi.
Namun menurut survey yang dilakukan Organisasi Ratting Political And Economic Risk Consultancy (PERC) Hongkong, ternyata Indonesia malah menjadi Negara terkorup di Asia pada tahun 2002. Jargon pemberantasan korupsi yang digaungkan para calon pejabat Negara saat kampanye tidak memberikan efek yang signifikan terhadap pemberantasan praktek korupsi. Gemanya tidak terdengar setelah mereka menjabat dikursi pemerintahan
Hal ini tidak lepas dari pengaruh paradigme berfikir materialisme. Dimana uang menjadi tolak ukur kehormatan dan derajat seseorang yang dijadikan sebagai tujuan hidup. Dimanapun, kapanpun, dengan cara apapun, uang akan selalu dikejar. Termasuk dengan cara korupsi. Tidak heran jika di Indonesia korupsi menjadi persoalan yang amat akut. Kerugian negara akibat korupsi sangatlah besar. Ibarat penyakit telah memasuki stadium akhir yang tidak bisa ditolerir lagi. Oleh karena itu harus ada gerakan bersama untuk memberantas korupsi.
Dampak buruk Korupsi!
Praktek Korupsi yang kini menggurita memberikan dampak yang buruk bagi masyarakat. Beberapa dampak buruk yang bisa kita amati antara lain:
Pertama, berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap proses politik dan pemerintahan. Karena money politic selalu bermain didalamnya.
Kedua, hukum dan birokrasi hanya akan melayani kekuasaan dan pemilik modal. Keberpihakan terhadap rakyat menjadi minim. Bukan rahasia umum lagi, jika semakin tinggi jabatan seseorang, maka semakin mudah menembus hukum dan birokrasi. Dan rakyat biasa menjadi warga kelas dua yang terdiskriminasi.
Ketiga,korupsi mengakibatkan pembangunan dan fasilitas umum bermutu rendah. Seperti proyek pengaspalan jalan desa di dusun Kopang desa Kamal kecamatan Arjasa yang rusak padahal baru selesai dibangun atau proyek kompor gas gratis yang mudah sekali rusak bahkan meledak. Hal ini sangat membahayakan jiwa rakyat. Mengingat fasilitas tersebut digunakan oleh banyak orang.
Keempat, mengakibatkan kolapsnya system ekonomi karena produk yang tidak kompetitif dan penumpukan beban utang luar negri. Hal ini membuat pengusaha-pengusaha local tergilas karena biaya produksi terpangkas untuk mengurangi beban biaya operasional sehingga mengurangi kualitas dan kuantitas produksi yang berakhir pada banyaknya pengangguran. Tidak heran jika pelamar CPNS membludak, mengingat resiko menjadi pengusaha sangat besar.
Kelima, korupsi menghambat pertumbuhan ekonomi. Karena biaya untuk merangsang perekonomian rakyat minim, mengakibatkan taraf kehidupan masyarakat menurun lalu meningkatkan ormis-ormis (orang miskin) baru. Sehingga pertumbuhan ekonomi mayoritas rakyat sebenarnya turun dan pertumbuhan ekonomi koruptor naik.
Bersama memberantas korupsi
Korupsi yang merugikan rakyat memang harus diberantas hingga keakar-akarnya. Jika tidak,ia akan merusak perikehidupan bangsa dan Negara baik dari sisi politik, ekonomi, social dan akhlaq . Upaya pemberantasan korupsi ini membutuhkan peranan banyak pihak. Tidak hanya individu pejabat terkait tetapi juga masyarakat dan kesatuan pemerintahan secara utuh. Peran yang bias mereka berikan diantaranya:
i. Individu pejabat,wajib bagi seorang pejabat untuk tidak menerima suap atau hadiah dari pihak manapun, karena hal itu akan merusak mental dan akhlaq para pejabat yaitu mengikis kejujuran dan ketulusannya untuk melayani rakyat. Hal ini harus dihindari, Rosulullah memberikan teladan yang bagus untuk ditiru dalam masalah korupsi yaitu sebuah hadist yang menjelaskan ”hadiah yang diberikan kepada penguasa adalah suht (haram) dan suap yang diterima hakim adalah kufur” (HR. Imam Ahmad)
ii. Masyarakat, masyarakat ibarat dua sisi mata uang yang berlawanan. Dimana mereka bisa berperan menyuburkan atau memusnahkan korupsi. Hendaknya masyarakat dapat menjadi pengontrol kebijakan pemerintah agar tetap berpihak kepada rakyat dan menolak segala macam kebijakan yang culas dan menghianati amanah rakyat. Control masyarakat yang kuat akan menghapus budaya culas korupsi.
iii. Pemerintah, memberikan gaji yang layak agar para pejabat pemerintahan tidak tergiur untuk melakukan korupsi. Walaupun kenaikan gaji tidak menjamin seseorang tidak korupsi. Setidaknya masalah gaji tidak dijadikan alasan untuk korupsi. Jika mereka masih tetap melakukan praktek korupsi sanksi hukum yang tegas dan setimpal harus dijatuhkan. Walaupun harus dengan hukuman mati, agar menimbulkan efek jera. Tidak sekedar memakai baju “penghinaan” yang lebih ringan daripada vonis pencuri ayam. Untuk mengantisipasi praktek korupsi pemerintah seharusnya melakukan perhitungan kekayaan pra dan pasca menjabat. Agar praktek korupsi bisa terdeteksi lebih dini. Dan tidak kalah pentingnya lagi, teladan dari pemerintah. Ada pepatah jawa mengatakan “ing ngarso sun tuladha”, teladan dari seorang pemimpin akan memberikan pengaruh yang besar bagi rakyat dan pejabat dibawahnya.

Tapi memang, upaya tersebut beserta Undang-Undang dan komitmen memberantas korupsi saja belum cukup karena akar masalah korupsi adalah adanya paradigma materialisme yang menyelimuti negri ini. Dibutuhkan solusi yang mengakar untuk mengatasinya, bukan sekedar menebang pohon materialliame seperti pengadaan kantin kejujuran yang dirintis di SMA-SMA oleh KPK, tapi juga mencabut akar budaya meterialisme itu sendiri. Alternative mana lagi yang bisa kita pilih? Selain mengganti paradigma berfikir yang salah itu dengan wawasan keIslaman kota santri.

Ika Misfat Isdiana*

SEKS AMAN “IMINGI” REMAJA


Penderita HIV/Aids yang menembus angka 23.632 adalah jumlah yang ironis. Penyakit yang muncul karena seks bebas ini melanda Indonesia, Negara yang menjujung tinggi akhlaq ketimuran. Parahnya Dinkes menyodorkan solusi seks aman dengan kondom untuk mengatasinya. Padahal seks bebas yang ditengarai penyebab utama HIV/Aids mayoritas dilakukan remaja produktif yang belum menikah. Jika kampanye ini terus dilanjutkan maka remaja akan semakin bebas bermain “seks aman” dengan kondom. Akhirnya akhlaq remaja penerus bangsa ini semakin rusak. Jika demikian dampaknya, stop kampanyekan kondom! Selamatkan akhlaq remaja Indonesia!

Ika Misfat Isdiana A. Ma. Pd

Selasa, 10 November 2009

TKI MANA YANG LEBIH MUJUR?


Menakertrans Muhaimin Iskandar meninjau ulang pengiriman TKI ke Kuwait, Jeddah dan Jordania (Jawa Pos, 3/11/2009), banyaknya pelanggaran menjadi penyebab keputusan tersebut.
Padahal sebelumnya kasus penganiayaan TKI Malaysia asal Jember menggegerkan media massa. Malaysia seolah menjadi pabrik kekerasan TKI yang akhirnya menyulut konflik 2 negara Islam Asia itu. Tapi ternyata Menakertrans tidak memutus hubungan per-TKI-an dengan Malay, justru dengan Kuwait, Jeddah dan Jordania. Kalau begitu, seberapa parah pelanggaran TKI disana? Tidak adil kalau kekerasan TKI disana tidak di blow up juga.
Ika Misfat Isdiana A. Ma. Pd*

Bisnis Porno = Free Seks


Gawat! Senin (2/11) muncul kabar di Koran ini, dua pasangan remaja tertangkap oleh polres Ponorogo melakukan pesta seks disebuah kafe. Ini bukanlah kasus pertama yang dilakukan remaja Indonesia. Tidak heran jika jumlah penderita HIV/Aids di Indonesia kian hari kian bertambah.
Padahal, banyak pihak yang membina remaja untuk meninggalkan seks bebas yang merusak moral dan kualitas remaja. Lembaga kesehatan, LSM, lembaga keagamaan bahkan kepolisian. Tapi tidak membuahkan hasil.
Ironisnya, industry pornografi menjadi bisnis yang terus dilakoni walaupun merangsang remaja melakukan seks bebas. parahnya pemerintah tetap melegalkannya. Jika bisnis porno tidak dihentikan, mustahil seks bebas remaja berkurang. Remaja butuh dukungan pemerintah untuk membasmi bisnis porno! No pornography no free seks.
Ika Misfat Isdiana A. Ma. Pd*

Nama Lain Tukang Pijat

Kasus rekaman anggodo mencuatkan strata social tukang pijat. Ong Yuliana Gunawan yang terlibat percakapan dengan Anggodo, diawal disebut-sebut sebagai seorang ahli syaraf. Namun kemusian profesinya bergeser menjadi tukang pijat.
Memang Ameliorasi sering kali digunakan media untuk memperhalus istilah. Tukang pijat menjadi ahli syaraf, pelacur pezina menjadi PSK (pekerja seks komersial), hutang be-riba menjadi dana bantuan internasional. Memang, ameliorasi seringnya menipu. Hati-hati dengan istilah Ameliorasi!
Ika Misfat Isdiana A. Ma. Pd*

BATIK DIMILIKI, SDA DIBAWA LARI


Kekawatiran akan hilangnya budaya bangsa telah sirna. UNESCO mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya Indonesia.walau proses pengakuan tersebut tidak mudah dan butuh perjuangan panjang.
Anehnya orang Indonesia tidak kawatir kehilangan minyak bumi, batu bara, timah, emas diPapua dan sumber daya alam lain. Yang dirampok oleh investor asing melalui UU yang dilegalkan oleh pemerintah seperti UU penanaman modal.
Padahal SDA itulah yang akan menyejahterakan rakyatkalau benar-benar kita “miliki” seutuhnya.punya batik dan sejahtera, pasti lebih bahagia.

Ika Misfat Isdiana A. Ma. Pd*

REMAJA BEBAS SEKS, BUKAN MIMPI



Minggu (1/11/2009) koran ini memberitakan Video mesum pelajar yang diduga berasal dari sekolah menengah atas (SMA) di Nganjuk, Jawa Timur, beredar luas di masyarakat, baik melalui sarana telepon seluler (ponsel) maupun fasilitas di warung internet (warnet).

Video dengan durasi 26 menit tersebut diambil dengan cara direkam lewat ponsel. Dalam video tersebut, terekam adegan hubungan layaknya suami istri yang dilakukan pasangan tersebut dalam sebuah kamar kosong
Keesokan harinya Senin (2/11) muncul kabar di Koran ini, beberapa pasangan remaja digerebeg oleh jajaran polres Ponorogo saat melakukan pesta seks disebuah kafe di Jl. Niken Gandini. Mereka tertangkap basah saat melakukan hubungan layaknya suami istri. Naudzubillah! Inikah potret remaja kita?
Banyaknya kasus free seks, video mesum, foto porno dan aksi pergaulan bebas lainnya mewarnai dunia remaja. Fakta berbicara seolah-olah menyimpulkan bahwa dunia remaja penuh dengan aktifitas ”mesum”. Apa yang terjadi pada remaja Indonesia? Mengapa begitu banyak aksi pelampiasan birahi yang melampaui batas?
Seiring berkembangnya teknologi informatika, pornografi dan pornoaksi mengalami revolusi mencengangkan. Kepornoan telah berpindah dari wilayah privat menuju wilayah public tanpa terbendung. Perlahan tapi pasti telah terjadi gelombang pembebasan birahi melalui penjajahan pornografi dan pornoaksi. Menabrak nilai-nilai budaya, agama dan bahkan mengalahkan nurani. Remaja akhirnya tergiring arus pornografi pornoaksi, dan menjadi penikmat seks bebas.
Dukungan Indonesia untuk pornografi
Indonesia sebagai bagian dari komunitas global, ikut terjebak dalam lingkaran birahi ini. Menurut Associated Press (AP) Indonesia didaulat sebagai surga pornografi setelah Rusia. Dampaknya, kepornoan dinegri ini bebas berkeliaran. Siapapun bisa mengaksesnya dengan mudah dan murah. Produk pembangkit birahi makin marak. Mulai dari konten porno di media cetak, novel, komik, lukisan, VCD, acara televise, video internet, sampai karya seni berupa foto, lukisan dan patung. Produk-produk porno ini begitu mudah ditemukan dan dikonsumsi. Dari hotel-hotel hingga pedagang kaki lima. Mulai dari harga khusus hingga harga eceran. Siapapun bisa menikmatinya, termasuk remaja.
Industry porno yang melibatkan media massa mencetak omset sangat menggiurkan diseluruh dunia. Di AS pornografi menghasilkan keuntungan kotor 1 juta US dollar perhari. Sementara di Inggris, 20 juta eksemplar majalah porno terjual pertahun. Maka tidak mengherankan jika para pemilik modal di Indonesia mulai tergiur olehnya. Seperti contoh PT. Velvet Silver Media yang rela mengorbankan Milliaran rupiah untuk membeli lisensi penerbitan majalah Playboy. Hasilnya, edisi perdana April yang dicetak 100.000 eksemplar, langsung ludes dalam 5 hari.
Bebaskan remaja dari jeratan birahi!
Menurut peribahasa siapa yang menanam, dialah yang memanen. Jika yang berbisnis pornografi mendapatkan keuntungan yang berlimpah, tidak demikian dengan pihak yang tak turut menanamkan investasinya. Mereka menuai badai penderitaan. Masyarakat secara keseluruhan harus menaggung dampak negative dari penjajahan syahwat pelaku pornografi. Dampak negative itu antara lain rendahnya produktifitas remaja khususnya, karena terganggu oleh wawasan kepornoan, munculnya berbagai bibit penyakit social seperti penyimpangan seks, terjadinya dekadensi moral, hingga berujung pada terancamnya eksistensi remaja sebagai agent of change.
Mengutip perkataan Adhyaksa menirukan presiden “kalau misalnya ada kerusakan fisik atau bencana dalam satu dua tahun bisa kita perbaiki. Tapi kalau kerusakan moral, itu sangat sulit kita perbaiki. Bisa mengakibatkan hilangnya satu generasi. Oleh karena itu pelakunya harus ditindak tegas dan maksimal”.
Tindakan tegas terhadap aksi pornografi membutuhkan kekuatan kebijakan dari pemerintah. Pemerintah harus menyerukan suara yang sama dengan masyarakat yaitu perang terhadap pornografi. Lindungi remaja dengan aturan yang tegas terhadap pornografi.
Niel Postman, kritikus social Amerika mendiskripsikan fenomena kekinian dengan kalimat “ kata-kata malu, harga diri dan kesucian kini kehilangan warna dan nilainya”. Sudah saatnya kita kembali pada fitrah kemanusiaan kita, yaitu memiliki rasa malu. Malu adalah sebagian dari iman. Maka tingkatkanlah keimanan kita agar rasa malu kita bisa segera bangkit. Menghidupkan kembali harga diri dan kesucian dengan Iman adalah solusi alternative yang harus segera dicoba.
Ika Misfat Isdiana A. Ma. Pd*

Kamis, 29 Oktober 2009

SETENGAH NOLONG, SETENGAH “MENTHUNG”

Kebijakan konservasi minyak ke gas yang diputuskan pemerintah telah lama diberlakukan. Dan janji bantuan kompor gas gratis juga diumumkan pada masyarakat. Setelah sekian lama menunggu dan setelah lama mengalami kelangkaan minyak tanah, harga minyak tanah muahal, karena program konservasi, janji kompor gas gratis akhirnya datang juga. Sesaat saya bahagia karena setidaknya beban saya akan sedikit berkurang.
Tapi kebahagiaan saya pupus, karena setelah berkonsultasi dengan reparator kompor gas, saya dianjurkan untuk mengganti beberapa onderdil kompor agar tidak meledak seperti beberapa kasus yang muncul di televisi. Demi keselamatan jiwa dan keluarga saya, jadilah saya melakukan anjuran reparator itu. Kurang lebih 150 ribu dana yang harus saya kucurkan untuk menikmati kompor gas “gratis” yang aman. Setelah beberapa minggu pasca pembagian kompor, bebarapa tetangga saya bercerita kalau kompornya rusak, saya jadi was-was, kalau kompor saya rusak saya harus mengeluarkan dana berapa lagi? Belum lagi isu kanaikan harga gas yang membuat saya semakin was-was. Jika pemerintah benar-benar berniat membantu, janganlah setengah hati. Kalau seperti ini program bantuan yang dimaksud pemerintah, bisa-bisa rakyat mati pelan-pelan.
Ika Misfat Isdiana A. Ma. Pd*

SANKSI TEROR PEJABAT NEGARA


Akhir-akhir ini kita sering mendengar pemberitaan media massa tentang terorisme, teroris dan bom. Walau ada fakta gempa Padang yang mencengangkan, isu teroris tak kunjung surut.
Kita ketahui bersama, bahwa terorisme adalah tindakan yang mengancam masyarakat, walau tidak mengancam jiwa setidaknya rasa takut akibat terror bisa disebut aksi terorisme karena menimbulkan ketakutan, keresahan, ketidaknyamanan.
Jika demikian, maraknya kasus KKN para pejabat Negara, isu rencana pembunuhan pejabat Negara, isu kenaikan harga- harga kebutuhan pokok, BBM, LPG dll, sistem Negara yang mendekati orde baru termasuk dalam aksi terror. Karena ketidakadilan, ketidakpastian itu membuat rakyat cemas, resah, was-was dan takut untuk melangsungkan hidupnya. Seharusnya pemerintah tidak melakukan aksi yang “menteror” rakyat dengan kebijakannya, karena itu akan menginspirasi rakyatnya.
Jika densus 88 berhak menembak mati para teroris yang menebar teror, apa sanksi yang harus diberikan pada aparatur Negara yang melakukan “terror” agar mereka jera?
Ika Misfat Isdiana A. Ma. Pd*

SALAH=BENAR, BENAR=SALAH


Saat ini sulit untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Pasalnya, banyak fakta yang menyalahkan kebenaran dan membenarkan yang salah. Dalam kasus Lumpur Lapindo misalnya, kita sudah sama-sama tahu kasus Lumpur Lapindo sampai 3 tahun lebih 5 bulan belum kunjung selesai. Masalah relokasi ataupun ganti rugi, semuanya hanya janji-janji palsu. Tapi aneh bin ajaib di negri ini. Orang yang notabene harus bertanggungjawab dalam masalah ini masih saja dipercaya. Bahkan saat ini malah dijadikan Ketua Umum Partai Golkar, sebut saja Abu Rizal Bakrie. Abu Rizal Bakrie seolah-olah bebas dari tanggungjawabnya dengan banyak kambing hitam yang diperkarakan dalam kasus Lumpur Lapindo. Banyak orang memberi dukungan dan harapan padanya. Padahal dari kasus Lumpur Lapindo saja, semua orang bisa menilai.
Jika dalam masalah Lumpur Lapindo saja tidak bisa selesai, bagaimana nanti jika menjadi Presiden atau Wapres jika itu yang menjadi tujuan Golkar di Pilpres 2010. Padahal saat bencana Lumpur Lapindo terjadi Abu Rizal Bakrie menjabat sebagai Menkokesra. Inilah bukti sebuah ketidakadilan di negri ini. Yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan. Apakah orang-orang di zaman kapitalis ini benar-benar dibutakan oleh materi. (vY*)

Semua Jadi TO


Begitu heroiknya densus 88 dalam penangkapan teroris hingga membuat semua orang kini menjadi sasaran densus 88. Bagaimana tidak, setelah pengawasan terhadap ormas Islam yang memperjuangkan syari’at Islam hingga adanya pencitraburukan terhadap simbol-simbol Islam, seperti; jenggot, kerudung besar, jilbaber, ataupun cadar. Kini, densus 88 telah menjadikan mahasiswa sebagai target operasi. Setelah densus 88 mengeluarkan statmentnya, tak luput semua media baik elektronik maupun cetak memberitakan bahwa penerus Nordin belum habis karena mereka mempunyai penerus yaitu kalangan mahasiswa. Tak ayal saat ini kegiatan mahasiswa bakal diawasi, bahkan pemberian stigma mahasiswa yang menjadi kader teroris pun beredar di masyarakat. Mulai mahasiswa yang kritis, memiliki keinginan untuk memperjuangkan Islam, sampai adanya kepedulian terhadap saudaranya di belahan negri Islam yang lain.
Ada apa dengan densus 88. Apakah mereka kehilangan cara sehingga saat ini membidik mahasiswa yang kritis? Kenapa juga aparatur Negara ini tidak menindak mahasiswa yang melakukan free sex, narkoba, ataupun aborsi?
Melihat perkembangan kinerja densus 88 dalam penangkapan teroris, bisa jadi nanti tukang becak jadi sasarannya. Bagaimana tidak, kehidupan yang serba sulit dan iming-iming bayaran untuk jihad bias menjadi alasan densus 88. Atau jangan-jangan kita nanti yang menjadi giliran TO (Target Operation) densus 88. (vY*)

Senin, 05 Oktober 2009

WASPADA: LIBERALISASI DI BALIK KRR!


Terkesan seperti program mulia tetapi jika kita pelajari lebih dalam kita akan menemukan upaya penghancuran sebuah generasi dengan cara yang tidak kentara. Sejak adanya Inetrnasional Conference Population Development (ICPD) tahun 1994 di Kairo yang menghasilkan konsep Kesehatan Reproduksi (Kespro) termasuk gagasan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Kespro diharapkan mencegah remaja dari seks pranikah dan berbagai masalah reproduksi. Para peserta konferensi diwajibkan untuk menerapkan konsep tersebut termasuk Indonesia, ini berarti hampir 15 tahun diimplementasikan melalui Departemen Kesehatan, BKKBN, Departemen Pendidikan Nasional dan berbagai elemen instansi terkait, termasuk LSM dalam dan luar negeri.Alih-alih mencegah remaja dari seks bebas ternyata semakin menjerumuskan mereka pada pergaul bebas. Seks bebas yang menjadi pangkal masalah kesehatan reproduksi remaja, justru menjadi konsumsi sehari-hari remaja. Buktinya, sebelum ada program KRR pelaku seks pranikah 10-31% (YKB, 1992), setelah 14 tahun KRR diterapkan pelaku seks pranikah malah naik menjadi 62,7% (KPA, 2008). Artinya 26,23 juta remaja hidup bergelimang syahwat. 25% remaja yang melakukan seks pranikah dan hamil melakukan aborsi, angka ini meroket 50% dibanding tahun 2002. Tidak hanya itu, berdasarkan penelitian pergaulan anak SMP dan SMA yang dilakukan Komnas Anak di 12 kota besar di Indonesia menunjukkan bahwa 93,7% anak SMP dan SMA pernah ciuman, petting, dan oral seks, 62,7% anak SMP mengaku tidak perawan, 21,2% anak SMU melakukan aborsi, dan 97% pernah melihat film porno. Sementara itu, karena seks bebas sebagai media penularan penyakit menular seksual, mulai dari yang ringan hingga yang mematikan (HIV/AIDS) maka penderita IMS juga pasti meningkat. Diperkirakan 10-20 juta jiwa penduduk Indonesia rawan tertular HIV (Republika, 27 Mei 2007). Dan 81,87 penderita AIDS tersebut adalah remaja (Anonim, 2008). Sungguh hasil yang mencengangkan, bukan?KRR digagas Barat karena remaja dianggap kurang paham soal seks dan kespro. Tak heran bila konten KRR berupa penjelasan tentang perubahan fisik dan psikis remaja, alat kelamin (organ reproduksi), baik anatomis maupun fungsi fisiologis serta bagaimana proses reproduksi terjadi, kehamilan dan cara kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) dan aborsi “aman”, homo dan lesbi harus diakui sebagai suatu identitas seksual, seks bebas yang “aman”, dan info tentang berbagai penyakit menular seksual serta cara pencegahannya.
Soal seks aman dalam KRR digagas dengan konsep ABCD. A: abstinence, yaitu menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks, B: be faithfull, yaitu setia pada pasangan, C: Condom, yaitu pakai kondom biar tidak kena penyakit menular dan tidak hamil. D: drugs. Konsep ABCD diartikan, jika remaja ingin sehat Kespro jangan ngeseks (A), tapi kalau tidak kuat nahan nafsu maka boleh ngeseks dengan pasangan setia (B), pastinya bukan pasangan menikah karena menikah dini dilarang oleh KRR. Kalau tidak bisa setia bagaimana? Tenang, pakai saja kondom (C), dijamin aman tidak akan hamil dan tertular penyakit menular seks. Jika seks bebas berakibat kehamilan tidak diinginkan maka remaja bebas melakukan aborsi karena salah satu elemen dalam Kespro remaja bebas melakukan apapun dengan reproduksinya dan berhak melakukan hubungan intim dengan siapapun yang dia sukai. Hal ini sesuai dengan reproduksi sehat ala ICPD yang berbunyi “Setiap individu harus memegang kendali atas tubuhnya sendiri melalui pilihan-pilihan yang dipahami dan bertanggungjawab dalam hubungan seksual. Ini membawa ke tingkat seksualitas yang sehat yang merupakan bagian penting dari Kespro (Depkes, 2003).Faktanya dari ABCD yang paling gencar dipopulerkan adalah konsep C (kondom) dan aborsi “aman”. Sejak dicanangkan 100% kondom oleh KPAI, kondom dan alat kontrasepsi lain mudah didapat di took-toko obat dan apotik dengan harga murah dan aneka rasa. Bahkan pernah setelah diberi penjelasan tentang bahaya HIV/AIDS di FISIP disalah satu PTN di kota ini, dibagikan kondom pada mahasiswanya. Konsep berikutnya yang digagas KRR adalah “aborsi aman”, artinya jika seks bebas berakibat KTD, maka remaja berhak aborsi demi terwujudnya mental yang sehat sebagaimana definisi sehat reproduksi ala ICPD. Maka remaja difasilitasi untuk mengakhiri hasil perzinahannya itu dengan aborsi yang “aman”.Kalau dicermati, isi dan ilustrasi KRR tidak beda dengan tayangan porno. Wajar kalau ada komentar “ini sama aja menyuruh remaja berseks bebas”. Ya, bagi remaja normal, setelah mendapat menjelasan KRR dijamin bakal terbentuk persepsi seksual yang justru merangsang nafsu seksnya (sexual desire). Di satu sisi, pemerintah ingin mencegah remaja melakukan seks bebas tetapi disisi lain pemerintah malah memfasilitasi remaja untuk ngeseks. Buktinya, dengan adanya ATM Kondom, program KRR, dan tayangan-tayangan porno baik di TV, majalah, koran, buku-buku, video, game, handphone, maupun internet yang mudah untuk di akses.Liberalisasi seks semakin merebak, ketika pemenuhan seks yang halal dihalang-halangi bahkan dilarang. Misal mencap pernikahan usia muda dengan citra negatif karena dituduh membahayakan kesehatan (penyebab kanker serviks), melanggar hak anak, mengakibatkan penderitaan, kemelaratan, menurunkan kualitas remaja dan masa depan remaja tidak menentu. Lalu dipopulerkan istilah mematangkan usia nikah. Walhasil, remaja digiring untuk memilih seks bebas daripada nikah dini. Dengan kata lain, gagasan dan tindak aksi KRR-ICPD hanyalah mengeksiskan liberalisasi seks. Parahnya DPR akan mengesahkan RUU Kesehatan pengganti UU No. 23 tahun 1992 yang didalamnya memuat ikhwal Kespro yang akan semakin menjerumuskan remaja dalam pergaulan bebas. Bukan kebangkitan sebuah generasi unggul di negeri ini, yang akan ada adalah loss generations. (vY*)